Daftar Blog Saya

Laman

Selasa, 26 Juli 2011

Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian

Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian


Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian…”
Pernah dengar pernyataan seperti ini? Mungkin pernah, mungkin juga belum.
Yuk kita berpikir dan merenung sejenak!!
Bagaimana selama ini anda survive? Digaji dengan angka tertentu, padahal bisa bekerja lebih baik dan lebih bernilai. Ataukah, membangun usaha di mana
anda sendirilah yang mengukur berapa yang harus anda raih untuk usaha anda…?
Sebuah pertanyaan yang terus menggelayut dalam pikiran ini, apakah kita akan terus dalam kondisi yang sama dalam segi penghasilan…?
Sekarang marilah kita renungkan mengapa dianjurkan jangan mau seumur hidup jadi orang gajian. Bayangkan berapa gaji yang akan anda peroleh setiap bulannya, berapa total setahunnya, dan berapa anda digaji setiap jamnya? juga renungkan apa yang dapat anda lakukan dengan penghasilan sebesar itu? apa yang dapat anda
belanjakan setiap bulannya? dan berapa sisa yang dapat anda tabung?
Anda tau tukang bakso saja bisa lebih sukses dan kaya dari kita, padahal mungkin tidak berpendidikan tinggi atau memiliki gelar yang mentereng. dan apakah anda juga tahu seberapa besar kemungkinan penghasilan yang bisa anda raih jika
anda sedikit lebih berani dan kreatif?
Ups…ini bukan iklan MLM atau yang sejenisnya…yang menjanjikan penghasilan
melimpah hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya. Tapi bukannya tidak mungkin…. jika anda beranjak dari posisi anda saat ini dan
 mulai merancang
hidup dan penghasilan anda hingga 5, 10, 20 tahun mendatang.
Buat anda yang masih kuliah, apa yang akan anda lakukan setelah anda lulus..?
Menenteng-nenteng ijazah kuliah keluar masuk perkantoran dan melamar lowongan yang ada. Anda yakin anda diterima? ya…mungkin saja…namanya juga usaha. Lalu berapa lama anda akan membopong ijazah anda hingga anda
akhirnya diterima? 1 bulan, 2 bulan…1 tahun…?
” Saat ini jumlah penganggur sudah mencapai 45,2 juta. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.650.000 orang penganggur terdidik lulusan perguruan tinggi…”
Coba kita renungkan saat itu jika anda melakukan sesuatu, ya selama satu tahun itu….berusaha mencari peluang yang dapat memberikan penghasilan kepada anda… berapa kira-kira yang anda akan dapatkan…? Kira-kira apa yang terbesit dalam benak anda? Usaha apa yang akan anda jalankan? Berapa penghasilan rata-rata perbulan yang akan anda rancang?
Belum terpikirkan…..?
Kalau demikian mulailah berpikir, sudah cukup banyak pengangguran berijazah saat ini. Jangan jadikan daftar penganggur bertambah lagi dengan masuknya nama anda di dalamnya. Jadikan diri kita bagian dari solusei untuk mengurangi pengangguran tersebut.
Hanya sebagai contoh kecil…
Ada teman saya yang lumayan pintar, dan banyak juga rekan-rekan kita yang seperti beliau ini…
mengisi waktunya dengan mengajar privat mata pelajaran tertentu. Dari situ ia mendapat pengahasilan per anak/4jam/minggu setiap bulannya sejumlah Rp. 300.000-500.000,-. Dan ternyata ia bisa menghandel 10 anak dan terus bertambah setiap tahunnya. berapa income yang ia peroleh perbulannya. 10x Rp.300.000,- = Rp. 3.000.000,- (ini angka minimal). Wow….sebuah angka yang cukup besar bagi seorang mahasiswa/fresh graduate.
Berapa gaji sarjana baru saat ini ketika baru diterima kerja? ga lebih dari Rp. 2.500.000,- bahkan ada yang hanya 1.000.000,-/bulannya. 
Dan anda tahu yang terjadi berikutnya, ketika anak didiknya semakin banyak ia lempar pesanan ngajar tersebut kepada rekan2 sekampusnya, dan dia mengelola mereka dalam sebuah lembaga privat, yang ia pimpin sendiri. Artinya ia telah memilikiperusahaan sendiri dengan income perbulan rata-rata Rp. 10jt.
Saat ini ia sudah memiliki kendaraan sendiri yang ia beli secara cash, walaupun
hanya sebuah motor Tiger dan rumah sendiri di daerah Tangerang. Ia saat ini baru lulus dan ketika ada tawaran dari sebuah perusahaan multi nasional, mentah2 ia tolak. kenapa ? karena gaji yang ditawarkan yang hanya Rp. 2.500.000,-.tidak ada apa2nya dibandingkan dengan penghasilan usahanya saat ini.
Ia memulai tanpa modal kapital, hanya dari sebuah
kesenangannya dalam mengajar, hubungan baik dengan rekan-rekannya, dan para dosen serta kemampuan melihat dan memanfaatkan peluang….
Lebih dari itu saat ini ia dipercaya sebagai direktur umum koperasi yang didirikan oleh jurusan tempat ia menimba ilmu, bekerja sama dengan para ahli dari berbagai bidang displin terapan teknik kimia, untuk kembali mencari peluang-peluang usaha yang tentunya tidak jauh dari bidang ilmunya saat ini. Itulah tantangan kita saat ini, bukan melamar kerja…melainkan menciptakan lapangan kerja dan usaha yang lebih variatif dan inovatif.
Bagaimana dengan Kita…?
Kalau kita memiliki keyakinan dengan kemampuan dan skill kita, kenapa tidak kita coba mulai rintis usaha kita sendiri ? kita yang jadi bosnya, kita yang menentukan seberapa besar penghasilan kita setiap bulannya, dan kita masih memiliki
kebebasan untuk melakukan segudang aktivitas lainnya, yang bisa saja aktifitas tersebut memiliki peluang untuk menjadi pintu rezeki yang melimpah bagi anda,
 …JIKA ANDA BERANI DAN KREATIF…
Jangan risaukan modal…dan lain sebagainya…karena pasti akan ada jalan keluarnya jika kita bersungguh-sungguh. Tanpa modalpun bisa kok. Syaratnya jadilah pemuda yang kreatif dalam melihat dan memanfaatkan peluang.
Good Luck Guys…. for all of us to get a better life.


Minggu, 24 Juli 2011

Breeding Jalak Bali

Penangkaran Jalak Bali Dipermudah, Kicau Mania Masih Enggan Melirik Breeding Jalak Bali


 Jalak Bali juga Curik Bali (Leucopsar rothschildi) merupakan  sejenis burung yang memiliki spesifik yang apik, burung yang memiliki bulu warna putih seluruh tubuhnya kecuali pada ujung ekor dan sayapnya yang berwarna hitam, bahkan sebagian ada sedikit berwarna biru. Jalak Bali memiliki pipi yang tidak ditumbuhi bulu, warna biru di sekitar kelopak mata, serta   sedikit bulu hitam di ekor, ini merupakan bagian ciri khasnya, selain bagian kaki yang berwarna keabu-abuan dalam keadaan kasat mata, burung jalak bali antara burung jantan dan betina hampis erupa. 
Sedang panjang badan sekitar 25 cm merupakan burung berkicau asal Indonesia. Jalak Bali ditemukan pertama kali oleh Dr. Baron Stressman seorang ahli burung berkebangsaan Inggeris pada tanggal 24 Maret 1911. Nama ilmiah Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dinamakan sesuai dengan nama Walter Rothschild pakar hewan berkebangsaan Inggris dan  pertama kali mendiskripsikan spesies di tahun 1912.
Satwa endemik Indonesia ini hanya bisa ditemukan di Pulau Bali terutama bagian baratnya, yang masih tersisa sehabis  Harimau Bali dinyatakan punah. Sejak tahun 1991yang sialm, satwa yang masuk kategori “kritis” (Critically Endangered) dalam Redlist IUCN dan yang nyaris punah di habitat aslinya, atas prakasra dari banyak peneliti dan tokoh buurng  ini kemudian di pakai sebagi Maskot kebesaran  Provinsi Bali.Karena itu, Jalak Bali memperoleh perhatian cukup serius dari pemerintah Republik Indonesia, yaitu dengan ditetapkannya sebagai hewan yang dilindungi oleh undang-undang. Perlindungan hukum untuk menyelamatkan satwa tersebut ditetapkan berdasarkan surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 421/Kpts/Um/8/1970 tanggal 26 Agustus 1970. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Jalak Bali merupakan satwa yang dilarang diperdagangkan kecuali hasil penangkaran dari generasi ketiga (indukan bukan dari alam).Jalak Bali tersebut merupakan satwa yang kehidupannya liar di habitat aslinya,  berbicara tentang populasinya burung amat ini langka dan terancam kepunahan. Di perkirakan jumlah spesies ini yang masih mampu bertahan di alam bebas hanya tinggal beberapa ekor saja. Banyak pengamat, kepunahan Jalak Bali di habitat aslinya disebabkan oleh deforestasi gundulnya hutan serta perdagangan satwa liar yang marak. Untuk mengantisipasi kepunahan beberapa lembaga yang peduli akan habitat ini, kemudian berusaha melepaskan burung kealam agar tetap lestari. 

Dalam konvensi perdagangan internasional bagi jasad liar CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of  Wild Fauna and Flora) Jalak Bali terdaftar pada Apendix I, yaitu kelompok yang terancam kepunahan dan dilarang untuk diperdagangkan. Sedang IUCN (International Union for Conservation of Natur and Natural Resources) memasukkan Jalak Bali dalam kategori “kritis” (Critically Endangered) merupakan status konservasi yang diberikan terhadap beberapa spesies yang memiliki risiko punah di alam bebas atau akan punah dalam waktu dekat secara total. Kini untuk menjamin kelestarian burung tersebut, pemerintah juga sudah melegitimasi badan atau perorangan untuk menangkarkan jalak tersebut, agar dapat menangkarkan jalak bali secara professional, di samping agar banyak dan mampu menangkal kepunahan. Sedang soal perizinan penangkaran juga di permudah, selain penjualan yang juga bebas namun berizin.  
Nah akankan para penangkar burung di Indonesia merespon keberadaan Curik bali ? tentu jawabnya sudah banyak yang merespon positif, namun hingga kini juga masih terkendala, indukan yang masih relative mahal **  Team red*


Sumber: majalahbuurngpas.com

Jumat, 22 Juli 2011

ELANG GUMILANG, CAMBUK UNTUK PARA MAHASISWA YG SUKA BENGONG DI KAMPUS & KAMAR KOS + PARA MAHASISWA YG SETIAP NGOBROL TOPIK UTAMANYA CUMA URUSAN CEWEK 





Selama ini banyak developer yang membangun perumahan namun hanya bisa dijangkau oleh kalangan menengah ke atas saja. Jarang sekali developer yang membangun perumahan yang memang dikhususkan bagi orang-orang kecil. Elang Gumilang (22), seorang mahasiswa yang memiliki jiwa wirausaha tinggi ternyata memiliki kepedulian tinggi terhadap kaum kecil yang tidak memiliki rumah. Meski bermodal pas-pasan, ia berani membangun perumahan khusus untuk orang miskin. Apa yang mendasarinya?
Jumat sore (28/12), suasana Institut Pertanian bogor (IPB), terlihat lengang. Tidak ada geliat aktivitas proses belajar mengajar. Maklum hari itu, hari tenang mahasiswa untuk ujian akhir semester (UAS). Saat Realita melangkahkah kaki ke gedung Rektorat, terlihat sosok pemuda berperawakan kecil dari kejauhan langsung menyambut kedatangan Realita. Dialah Elang Gumilang (22), seorang wirausaha muda yang peduli dengan kaum miskin. Sambil duduk di samping gedung Rektorat, pemuda yang kerap disapa Elang ini, langsung mengajak Realita ke perumahannya yang tak jauh dari kampus IPB.
Untuk sampai ke perumahan tersebut hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan menggunakan kendaraan roda empat. Kami berhenti saat melewati deretan rumah bercat kuning tipe 22/60. Rupanya bangunan yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi itu adalah perumahan yang didirikannya yang diperuntukan khusus bagi orang-orang miskin. Setelah puas mengitari perumahan, Elang mengajak Realita untuk melanjutkan obrolan di kantornya.
Elang sendiri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan H. Enceh (55) dan Hj. Prianti (45). Elang terlahir dari keluarga yang lumayan berada, yaitu ayahnya berprofesi sebagai kontraktor, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Sejak kecil orang tuanya sudah mengajarkan bahwa segala sesuatu diperoleh tidak dengan gratis. Orang tuanya juga meyakinkan bahwa rezeki itu bukan berasal dari mereka tapi dari Allah SWT..
Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar Pengadilan 4, Bogor, Elang sudah mengikuti berbagai perlombaan dan bahkan ia pernah mengalahkan anak SMP saat lomba cerdas cermat. Karena kepintarannya itu, Elang pun menjadi anak kesayangan guru-gurunya. Begitu pula ketika masuk SMP I Bogor, SMP terfavorit di kabupaten Bogor, Elang selalu mendapatkan rangking. Pria kelahiran Bogor, 6 April 1985 ini mengaku kesuksesan yang ia raih saat ini bukanlah sesuatu yang instan. “Butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu yang bisa dicapai secara instan,” tegasnya. Jiwa wirausaha Elang sendiri mulai terasah saat ia duduk di bangku kelas 3 SMA I Bogor, Jawa Barat. Dalam hati, Elang bertekad setelah lulus SMA nanti ia harus bisa membiayai kuliahnya sendiri tanpa menggantungkan biaya kuliah dari orang tuanya. Ia pun mempunyai target setelah lulus SMA harus mendapatkan uang Rp 10 juta untuk modal kuliahnya kelak.
Berjualan Donat. Akhirnya, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Elang mulai berbisnis kecil-kecilan dengan cara berjualan donat keliling. Setiap hari ia mengambil 10 boks donat masing-masing berisi 12 buah dari pabrik donat untuk kemudian dijajakan ke Sekolah Dasar di Bogor. Ternyata lumayan juga. Darihasil jualannya ini, setiap hari Elang bisa meraup keuntungan Rp 50 ribu.
Setelah berjalan beberapa bulan, rupanya kegiatan sembunyi-sembunyiny a ini tercium juga oleh orang tuanya. “Karena sudah dekat UAN (Ujian Akhir Nasional), orang tua menyuruh saya untuk berhenti berjualan donat. Mereka khawatir kalau kegiatan saya ini mengganggu ujian akhir,” jelas pria pemenang lomba bahasa sunda tahun 2000 se-kabupaten Bogor ini.
Dilarang berjualan donat, Elang justru tertantang untuk mencari uang dengan cara lain yang tidak mengganggu sekolahnya. Pada tahun 2003 ketika Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB mengadakan lomba Java Economic Competion se-Jawa, Elang mengikutinya dan berhasil menjuarainya. Begitu pula saat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kompetisi Ekonomi, Elang juga berhasil menjadi juara ke-tiga. Hadiah uang yang diperoleh dari setiap perlombaan, ia kumpulkan untuk kemudian digunakan sebagai modal kuliah.
Setelah lulus SMU, Elang melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi IPB (Institut Pertanian Bogor). Elang sendiri masuk IPB tanpa melalui tes SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru, red) sebagaimana calon mahasiswa yang akan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Ini dikarenakan Elang pernah menjuarai kompetisi ekonomi yang diadakan oleh IPB sehingga bisa masuk tanpa
tes. Saat awal-awal masuk kuliah, Elang mendapat musibah yang menyebabkan uang Rp 10 jutanya tinggal Rp 1 juta. Namun Elang enggan memberitahu apa musibah yang dialaminya tersebut.
Padahal uang itu rencananya akan digunakan sebagai modal usaha. Meski hanya bermodal Rp 1 juta, Elang tidak patah semangat untuk memulai usaha. Uang Rp 1 juta itu ia belanjakan sepatu lalu ia jual di Asrama Mahasiswa IPB. Lewat usaha ini, dalam satu bulan Elang bisa mengantongi uang Rp 3 jutaan. Tapi setelah berjalan beberapa tahun, orang yang menyuplai sepatunya entah kenapa mulai menguranginya dengan cara menurunkan kualitas sepatunya. Satu per satu pelanggannya pun tidak mau lagi membeli sepatu Elang. Sejak itu, Elang memutuskan untuk tidak lagi berjualan sepatu.
Setelah tidak lagi berbisnis sepatu, Elang kebingungan mencari bisnis apalagi. Pada awalnya, dengan sisa modal uang bisnis sepatu, rencanaya ia akan gunakan untuk bisnis ayam potong. Tapi, ketika akan terjun ke bisnis ayam potong, Elang justru melihat peluang bisnis pengadaan lampu di kampusnya. “Peluang bisnis lampu ini berawal ketika saya melihat banyak lampu di IPB yang redup. Saya fikir ini adalah peluang bisnis yang menggiurkan, ” paparnya. Karena tidak punya modal banyak, Elang menggunakan strategi Ario Winarsis, yaitu bisnis tanpa menggunakan modal. Ario Winarsis sendiri awalnya adalah seorang pemuda miskin dari Amerika Latin, Ario Winarsis mengetahui ada seorang pengusaha tembakau yang kaya raya di
Amerika. Setiap hari, ketika pengusaha itu keluar rumah, Ario Winarsis selalu melambaikan tangan ke pengusaha itu. Pada awalnya pengusaha itu tidak memperdulikannya. Tapi karena Ario selalu melambaikan tangan setiap hari, pengusaha tembakau itu menemuinya dan mengatakan, “Hai pemuda, kenapa kamu selalu melambaikan tangan setiap saya ke luar rumah?” Pemuda miskin itu lalu menjawab, “Saya punya tembakau kualitas bagus. Bapak tidak usah membayar dulu, yang penting saya dapat PO dulu dari Bapak.” Setelah mendengar jawaban dari pemuda itu, pengusaha kaya itu lalu membuatkan tanda tangan dan stempel kepada pemuda tersebut. Dengan modal stempel dan tanda tangan dari pengusaha Amerika itu, pemuda tersebut pulang dan mengumpulkan hasil tembakau di kampungnya untuk di jual ke Amerika lewat si pengusaha kaya raya itu. Maka, jadilah pemuda itu orang kaya raya tanpa modal.
Begitupula Elang, dengan modal surat dari kampus, ia melobi ke perusahaan lampu Philips pusat untuk menyetok lampu di kampusnya. “Alhamdulillah proposal saya gol, dan setiap penjualan saya mendapat keuntungan Rp 15 juta,” ucapnya bangga.
Tapi, karena bisnis lampu ini musiman dan perputaran uangnya lambat, Elang mulai berfikir untuk mencari bisnis yang lain. Setelah melihat celah di bisnis minyak goreng, Elang mulai menekuni jualan minyak goreng ke warung-warung. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, ia harus membersihkan puluhan jerigen, kemudian diisi minyak goreng curah, dan dikirim ke warung-warung Pasar Anyar, serta Cimanggu, Bogor. Setelah selesai mengirim minyak goreng, ia kembali ke kampus untuk kuliah. Sepulang kuliah, Elang kembali mengambil jerigen-jerigen di warung untuk diisi kembali keesokan harinya. Tapi, karena bisnis minyak ini 80 persen menggunakan otot, sehingga mengganggu kuliahnya. Elang pun memutuskan untuk berhenti berjualan. “Saya sering ketiduran di kelas karena kecapain,” kisahnya.
Elang mengaku selama ini ia berbisnis lebih banyak menggunakan otot dari pada otak. Elang berkonsultasi ke beberapa para pengusaha dan dosennya untuk minta wejangan. Dari hasil konsultasi, Elang mendapat pencerahan bahwa berbisnis tidak harus selalu memakai otot, dan banyak peluang-peluang bisnis yang tidak menggunakan otot.
Setelah mendapat berbagai masukan, Elang mulai merintis bisnis Lembaga Bahasa Inggris di kampusnya. “Bisnis bahasa Inggris ini sangat prospektif apalagi di kampus, karena ke depan dunia semakin global dan mau tidak mau kita dituntut untuk bisa bahasa Inggris,” jelasnya. Adapun modalnya, ia patungan bersama kawan-kawannya. Sebenarnya ia bisa membiayai usaha itu sendiri, tapi karena pegalaman saat jualan minyak, ia memutuskan untuk mengajak teman-temannya. Karena lembaga kursusnyanya ditangani secara profesional dengan tenaga pengajar dari lulusan luar negeri, pihak Fakultas Ekonomi mempercayakan lembaganya itu menjadi mitra.
Karena dalam bisnis lembaga bahasa Inggris Elang tidak terlibat langsung dan hanya mengawasi saja, ia manfaatkan waktu luangnya untuk bekerja sebagai marketing perumahan. “Saya di marketing tidak mendapat gaji bulanan, saya hanya mendapatkan komisi setiap mendapat konsumen,” ujarnya.
Bangun Rumah Orang Miskin. Di usianya yang relatif muda, pemuda yang tak suka merokok ini sudah menuai berbagai keberhasilan. Dari hasil usahanya itu Elang sudah mempunyai rumah dan mobil sendiri. Namun di balik keberhasilannya itu, Elang merasa ada sesuatu yang kurang. Sejak saat itu ia mulai merenungi kondisinya. “Kenapa kondisi saya begini, padahal saya di IPB hanya tinggal satu setengah tahun lagi. Semuanya saya sudah punya, apalagi yang saya cari di dunia ini?” batinnya.
Setelah lama merenungi ketidaktenangannya itu, akhirnya Elang mendapatkan jawaban. Ternyata selama ini ia kurang bersyukur kepada Tuhan. Sejak saat itulah Elang mulai mensyukuri segala kenikmatan dan kemudahan yang diberikan oleh Tuhan. Karena bingung mau bisnis apalagi, akhirnya Elang shalat istikharah minta ditunjukkan jalan. “Setelah shalat istikharah, dalam tidur saya bermimpi melihat sebuah bangunan yang sangat megah dan indah di Manhattan City, lalu saya bertanya kepada orang, siapa sih yang membuat bangunan megah ini? Lalu orang itu menjawab, “Bukannya kamu yang membuat?” Setelah itu Elang terbangun dan merenungi maksud mimpi tersebut. “Saya pun kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dunia properti,” ujarnya. Pengalaman bekerja di marketing perumahan membuatnya mempunyai pengetahuan di dunia properti. Sejak mimpi itu ia mulai mencoba-coba ikut berbagai tender. Tender pertama yang ia menangi Rp 162 juta di Jakarta yaitu membangun sebuah Sekolah Dasar di daerah Jakarta Barat. Sukses menangani sekolah membuat Elang percaya diri untuk mengikuti tender-tender yang lebih besar. Sudah berbagai proyek perumahan ia bangun.
Selama ini bisnis properti kebanyakan ditujukan hanya untuk orang-orang kaya atau berduit saja. Sedangkan perumahan yang sederhana dan murah yang terjangkau untuk orang miskin jarang sekali pengembang yang peduli. Padahal di Indonesia ada 70 juta rakyat yang masih belum memiliki rumah. Apalagi rumah juga merupakan kebutuhan yang sangat primer. Sebagai tempat berteduh dan membangun keluarga. “Banyak orang di Indonesia terutama yang tinggal di kota belum punya rumah, padahal mereka sudah berumur 60 tahun, biasanya
kendala mereka karena DP yang kemahalan, cicilan kemahalan, jadi sampai sekarang mereka belum berani untuk memiliki rumah,” jelasnya. Dalam hidupnya, Elang ingin memiliki keseimbangan dalam hidup. Bagi Elang, kalau mau kenal orang maka kenalilah 10 orang terkaya di Indonesia dan juga kenal 10 orang termiskin di Indonesia. Dengan kenal 10 orang termiskin dan terkaya, akan mempunyai keseimbangan dalam hidup, dan pasti akan melakukan sesuatu untuk mereka. Melihat realitas sosial seperti itu, Elang terdorong untuk mendirikan perumahan khusus untuk orang-orang ekonomi ke bawah. Maka ketika ada peluang mengakuisisi satu tanah di desa Cinangka kecamatan Ciampea, Elang langsung mengambil peluang itu. Tapi, karena Elang tidak punya banyak modal, ia mengajak teman-temannya yang berjumlah 5 orang untuk patungan. Dengan modal patungan Rp 340 juta, pada tahun 2007 Elang mulai membangun rumah sehat sederhana (RSS) yang difokuskan untuk si miskin berpenghasilan rendah. Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu. Modalnya Elang putar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri.
Elang membangun rumah dengan berbagai tipe, ada tipe 22/60 dan juga tipe 36/72. Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi tersebut ditawarkan hanya seharga Rp 25 juta dan Rp 37 juta per unitnya. “Jadi, hanya dengan DP Rp 1,25 juta dan cicilan Rp 90.000 ribu per bulan selama 15 tahun, mereka sudah bisa memiliki rumah,” ungkapnya.
Karena modalnya pas-pasan, untuk media promosinya sendiri, Elang hanya mengiklankan di koran lokal. Karena harganya yang relatif murah, pada tahap awal pembangunan langsung terjual habis. Meski harganya murah, tapi fasilitas pendukung di dalamnya sangat komplit, seperti Klinik 24 jam, angkot 24 jam, rumah ibadah, sekolah, lapangan olah raga, dan juga dekat dengan pasar. Karena rumah itu diperuntukkan bagi kalangan ekonomi bawah, kebanyakan para profesi konsumennya adalah buruh pabrik, staf tata usaha (TU) IPB, bahkan ada juga para pemulung.
Sisihkan 10 Persen. Dengan berbagai kesuksesan di usia muda itu, Elang tidak lupa diri dengan hidup bermewah-mewahan, justru Elang semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Salah satu wujud rasa syukur atas nikmatnya itu, dalam setiap proyeknya, ia selalu menyisihkan 10 persen untuk kegiatan amal. “Uang yang 10 persen itu saya masukkan ke BMT (Baitul Mal Wa Tanwil/tabungan) pribadi, dan saya alokasikan untuk membantu orang-orang miskin dan orang yang kurang modal,” bebernya. Bagi Elang, materi yang saat ini ia miliki ada hak orang miskin di dalamnya yang musti dibagi. Selain menyisihkan 10 persen dari hasil proyeknya, Elang juga memberikan sedekah mingguan, bulanan, dan bahkan tahunan kepada fakir miskin.
Bagi Elang, sedekah itu tidak perlu banyak tapi yang paling penting adalah kontinuitas dari sedekah tersebut. Meski jumlahnya kecil, tapi jika dilakukan secara rutin, itu lebih baik daripada banyak tapi tidak rutin. Elang sendiri terbilang sebagai salah satu sosok pengusaha muda yang sukses dalam merintis bisnis di tanah air. Prestasinya patut diapresiasi dan dijadikan suri tauladan bagi anak-anak muda yang lain. Bagi Elang, semua anak muda Indonesia bisa menjadi orang yang sukses, karena kelebihan manusia dengan ciptaan mahkluk Tuhan yang lain adalah karena manusia diberi akal. Dan, ketika manusia lahir ke dunia dan sudah bisa mulai berfikir, manusia itu seharusnya sudah bisa mengarahkan hidupnya mau dibawa kemana. “Kita hidup ibarat diberi diary kosong. Lalu, tergantung kitanya mau mengisi catatan hidup ini. Mau hura-hurakah? Atau mau mengisi hidup ini dengan sesuatu yang bermanfaat bagi yang lain,” ucapnya berfilosof. Ketika seseorang sudah bisa menetapkan arah hidupnya mau dibawa kemana, tinggal orang itu mencari kunci-kunci kesuksesannya, seperti ilmu dan lain sebagainya.
Menjaga Masjid. Adapun kunci kesuksesan Elang sendiri berawal dari perubahan gaya hidupnya saat kuliah semester lima. Pada siang hari, Elang bak singa padang pasir. Selain kuliah, ia juga menjalankan bisnis mencari peluang-peluang bisnis baru, negosiasi, melobi, dan sebagainya. Namun ketika malam tiba, ia harus menjadi pelayan Tuhan, dengan menjadi penjaga Masjid. “Setiap malam dari semester lima sampai sekarang saya tinggal di Masjid yang
berada dekat terminal Bogor. Dari mulai membersihkan Masjid, sampai mengunci, dan membukakan pintu pagar untuk orang-orang yang akan shalat Shubuh, semua saya lakukan,” ujarnya merendah.
Elang mengaku ketika menjadi penjaga Masjid ia mendapat kekuatan pemikiran yang luar biasa. Bagi Elang, Masjid selain sebagai sarana ibadah, juga tempat yang sangat mustajab untuk merenung dan memasang strategi. “Dalam halaman masjid itu juga ada pohon pisang  dan di sampingnya gundukan tanah. Saya anggap itu adalah kuburan saya. Ketika saya punya masalah saya merenung kembali dan kata Nabi, orang yang paling cerdas adalah orang yang mengingat mati,” ujarnya.
Ikut Lomba Wirausaha Muda Mandiri Karena Tukang Koran “Ghaib” Elang semakin dikenal khalayak luas ketika berhasil menjadi juara pertama di ajang lomba wirausaha muda mandiri yang diadakan oleh sebuah bank belum lama ini. Keikutsertaan Elang dalam lomba tersebut sebenarnya berkat informasi dari koran yang ia dapatkan lewat tukang koran “ghaib”. Kenapa “ghaib”?, sebab setelah memberi koran, tukang koran itu tidak pernah kembali lagi padahal sebelumnya ia berjanji untuk kembali lagi.
Peristiwa aneh itu terjadi saat ia sedang mencuci mobil di depan rumahnya. Tiba-tiba saja ada tukang koran yang menawarkan koran. Karena sudah langganan koran, Elang pun menolak tawaran tukang koran itu dengan mengatakan kalau ia sudah berlangganan koran. Tapi  anehnya musti sudah mengatakan demikian, si tukang koran itu tetap memaksa untuk membelinya, karena elang tidak mau akhirnya si tukang koran itu memberikan dengan cuma-cuma kepada elang dan berjanji akan kembali lagi keesokan harinya. Karena diberi secara cuma-cuma, akhirnya Elang pun mau menerimanya. Setelah selesai mencuci mobil, Elang langsung menyambar koran pemberian tukang koran tadi. Setelah membaca beberapa lembar, Elang menemukan satu pengumuman lomba wirausaha muda mandiri. Merasa sebagai anak muda, ia tertantang untuk mengikuti lomba tersebut. Elang pun membawa misi bahwa wirausaha bukan teori melainkan ilmu aplikatif. Saat lolos penjaringan dan dikumpulkan di Hotel Nikko Jakarta, Elang bertemu dengan seorang Bapak yang anaknya sedang sakit keras di pinggir jalan bundaran Hotel Indonesia. Elang merasa ada dua dunia yang sangat kontras, di satu sisi ada orang tinggal di hotel mewah dan makan di restoran, tapi di sisi lain ada orang yang tinggal di jalanan. Akhirnya, pada malam penganugerahan, tim juri memutuskan Elanglah yang menjadi juaranya. Padahal kalau diukur secara omset, pendapatannya berbeda jauh dengan para pengusaha lainnya. Dari Juara I Wirausaha itu, Elang membawa hadiah sebesar Rp 20 juta, ditambah tawaran kuliah S2 di Universitas Indonesia. Melalui lomba itu, terbukalah jalan cerah bagi Elang untuk menapaki dunia wirausaha yang lebih luas.
Ingin Membawahi Perusahaan yang Mempekerjakan 100 Ribu Orang Perjalanan Elang dalam merintis bisnis properti, tidak selamanya berjalan mulus. Pada awal-awal merintis bisnis ini, ia banyak sekali mengalami hambatan, terutama ketika akan meminjam modal dari Bank. Sebagai mahasiswa biasa, tentunya perbankan merasa enggan untuk memberikan modal. Padahal, prospek bisnis properti sangat jelas karena setiap orang pasti membutuhkan rumah. “Beginilah jadi nasib orang muda, susah orang percaya. Apalagi perbankan. Orang bank bilang lebih baik memberikan ke tukang gorengan daripada ke mahasiswa,” ungkapnya.
Meski sering ditolak bank pada awal-awal usahanya, Elang tidak pernah patah semangat untuk berbisnis. Baginya, kalau bank tidak mau memberi pinjaman, masih banyak orang yang percaya dengan anak muda yang mau memberi pinjaman. Terbukti dengan hasil jerih payahnya selama ini sehingga bisa berjalan. Ada banyak impian yang ingin diraih Elang, di antaranya membentuk organisasi Maestro Muda Indonesia dan membawahi perusahaan yang mempekerjakan karyawan 100 ribu orang. Motivasi terbesar Elang dalam meraih impian tersebut adalah ingin menjadi tauladan bagi generasi muda, membantu masyarakat sekitar, dan meraih kemuliaan dunia serta akhirat.


friendster elang : http://profiles.friendster.com/49508899

MENJADI MANAJER HANDAL DI KANDANG BREEDING

MENJADI MANAJER HANDAL DI KANDANG BREEDING
Breeding perlu management? Bukankah asal burung dikasih makan cukup, produksi dan anakan terjual dengan harga pantas masalah sudah selesai. Bukankah asal si peternak tidak lagi nombok buat perawatan sehari-hari berarti aktivitas breeding sudah untung dan berarti breeding sudah bisa dikatakan sukses?
       Jawaban di atas mungkin saja benar, dank arena itu juga menjadi bagian dari aktivitas breeding bagi kebanyakan peternak burung berkicau di tanah air. Jarang yang benar-benar menerapkan pola manajemen modern, melakukan pencatatan dengan teliti setiap ada masalah misalnya, mencatat mencatat semua penjualan berikut siapa dan dimana konsumenya, juga punya catatan/recording yang rapi dan lengkap tentang seluruh piyikanya ( no ring, tanggal lahir, kandang, indukan, silsilah dan informasi yang diperlukan).

       Breeding pemula atau awalnya biasanya juga masih terlalu terbayang akan keuntungan yang akan didapat bila usahanya berhasil. Secara matematis, breeding memang memberikan margin keuntungan yang besar. Namun para calon breeder biasanya kurang memperhitungkan factor resiko, yang juga tak kalah besar dibandingkan dengan potensi keuntungan yang bakal diraih.
       Sesungguhnya managemen resiko semestinya digaris depan untuk dipelajari dengan seksama sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia breeding. Kecuali bila maksud dari membreeding memang lebih sebagai bagian dari hobi, dan belum mengarah pada kegiatan bisnis.

       Agus Gamping, salah satu peternak yang sudah menerapkan manajemen modern dalam breeding mengungkapkan, bahwa para peternak apalagi calon peternak sejak awal harus menyadari, bahwa sejujurnya breeding itu tidak semudah teorinya. “Banyak sekali masalah dan kendala yang sangat khas, yang tiap pasangan akan akan mengalami masalah berbeda, dan dibutuhkan pendekatan berbeda pula untuk mengatasi atau mencari solusinya.”
       Potensi kegagalan harus dihitung dari awal. Misalnya, jangan menghitung bahwa semua indukan akan berproduksi dengan lancer sepanjang tahun dan rutin dalam periodesasinya. “Hitungan saya, kalau kita sudah bisa produksi lancer rata-rata 30% dari total indukan itu sudah bagus. Bila dalam setahun atau lebih, kita punya sepuluh pasang indukan dan rata-rata dalam satu periode (misalkan rata-rata perbulan) 3 pasang diantaranya produksi, itu sudah sangat bagus. Sebab setiap pasng indukan punya masalah sendiri sehingga ada waktu istirahatnya, misalnya mabung selama beberapa bulan.”
       Perlu manajemen dalam breeding juga sangat diakui Heri GAT dari Salatiga. Baginya, mengurus breeding itu tak beda dengan mengurus perusahaan. Kalau dikerjakan dengan system yang baik akan berkembang. Sebaliknya, kalau asal-asalan pasti akan berantakan di tengah jaln. Berbekal pengalaman sebagai bankir di salah satu bank pemerintah ternama, Heri berusaha menerapkan ilmu manajemen yang diketahuinya dalam melakukan usaha breeding. Dengan pasti, breeding Anis Kembang yang dikelolanya pun terus berkembang.

       Heri tak hanya sekedar bisa membuat breedingnya cukup produktif, tapi juga bisa menghasilkan anakan anis kembang yang berkualitas, sehingga banyak dicari, tentu harganya juga relative lebih tinggi daripada yang asal anakan anis kembang. “Sekarang prioritas memang mengarah pada seleksi indukan untuk meningkatkan kuaalitas, bukan pada kuantitas.”
       Membangun sebuah breeding dalam pengertian fisik itu mudah, tapi merawat supaya tetap berjalan dan kemudian berproduksi, itu yang tidak gampang. Kandang penangkaran, juga indukan (bila perlu bedol kandang) bisa dengan mudah dilakukan oleh mereka yang punya uang. Namun banyak kasus di tempat yang baru itu ( dengan bangunan yang didesain modern, dengan pendekatan alami dan dianggap cocok serta nyaman buat si burung) selama tahunan tidak menghasilkan apa-apa, akhirnya si breeder pun jenuh dan akhirnya terbengkalai.

Dikerjakan Sendiri VS Pakai Pegawai  
       Mana yang lebih bagus, semua ditangani sendiri atau perlu mengangkat pegawai untuk mengerjakan semua hal-hal yang sifatnya teknis dan sudah ada petunjuk pelaksanaanya, sebagian peternak ,memilih untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri.
       Sebagai contoh, misalnya Yanto Cucakrowo Sleman bahkan juga Andri Kotagede. Namun, ada pula yang memilih menyerahkan hamper semua aktivitas teknis kepada pegawainya, misalnya Ir. Agus Gamping. “Kita keluar biaya lebih, namun waktu kita lebih efektif sebab kita bisa melakukan pekerjaan lain yang hasilnya jauh lebih besar dari ongkos yang kita keluarkan untuk membayar pegawai. Kita juga masih bisa pergi-pergi bila ada keperluan sampai beberapa hari lamanya tanpa takut atau khawatir, sebab semua urusan teknis sudah ada yang mengerjakan secara professional.”
       Bila ada kasus-kasus baru yang dianggap urgen, barulah pegawai akan menghubungi bosnya untuk konsultasi sebelum sampai eksekusi kegiatan. Namun untuk aktivitas rutin, semuanya sudah ada petunjuk dan standar operasionalnya.
       Heri pun menerapkan hal yang relative sama dengan apa yang dilakukan oleh Agus. “Saya tak mungkin melakukan segalanya sendiri, sebab pagi saya harus berangkat ke kantor, sore kadang malam baru pulang. Jadi mesti ada pendelegasian. Dalam kasus saya, untuk urusan breeding kemudian ditangani atau dibantu oleh istri dan anak-anak”.
       Kini, isteri dan anak-anak Heri GAT memang sudah sangat paham bagaimana merawat dan menjaga burung breeding. Mulai merawat kandang, merawat indukan, hingga merawat anakan  mulai saat meloloh hingga makan sendiri bahkan ketika burung ada masalah pun, relative bisa menangani. 


Pembukuan
       Manajeman breeding yang modern juga menuntut adanya pembukuan yang lengap dan rapi. Ada beberapa hal yang perlu dicatat. Buku dagang jelas mutlak, mencatat semua pengeluaran seperti pembelian pakan, obat-obatan, pembayaran tenaga dan lain-lain. Juga catatan pemasukan dan penjualan hingga data konsumen secara lengkap.
       Buku ini memungkinkan kita bisa tahu secara persis margin bulanan maupun secara keseluruhan bila digabungkan dengan pengeluaran awal atau investasi awal, mulai pembelian induk hingga pembuatan kandang.

       Catatan penjualan juga mencatat tanggal lahir, no ring, no kandang, data indukan yang bisa diperluas menjadi silsilah bila diperlukan. Kemudian kita bisa tahu anakan A dibeli oleh siapa, dan bila kita terus memantau, akan ketahuan juga apakah burung dari breeding kita melahirkan burung jawara.
       Heri GAT misalnya mempunyai catatan yang cukup lengkap tentang burung-burung yang keluar dari kandangnya. Ada yang moncer di tangan sendiri, yang sudah juara baik dari latberan sampai di lombabesar seperti Pasopati, Tower, Dewa, Matador dan Ganeca.
       Sekarang muncul lagi Maharaja, kariernya mulai menanjak, sudah menampakan tajinya dengan gaya ngerol mendongak menatap langit, bukaan paruhnya sobek ddan speed rapat, membawakan lagunya pun mantap. Kalau yang moncer di tangan orang lain sebut saja M Top, Kantil, Fitri, Narodo, Sundul Langit, Dewa Cinta dan masih banyak lagi yang belum terunut.
       Setiap masalah yang mincul juga harus dicatat, apakah burung sakit, sakitnya apa, apakah gejala wajar atau unik, sudah diberi solusi apa, sepertia apa hasilnya, mesti tercatat dengan baik. Dari catatn ini, kelak bisa menghasilkan kesimpulan. Apakah itu bisa berlaku untuk banyak ksus atau hanya untuk kasus tertentu saja.
Manajemen Mengembangkan Breeding
       Membangun breeding sebaiknya tidak langsung besar. Hal ini amat penting, sebab kita harus mengenali betul setiap individu calon indukan. Jadi semestinya tidak asal bangun kandang jumlah benyak dan kemudian mengisi dengan indukan.
       Belum tentu setiap indukan akan begitu saja langsung berproduksi, sebab masing-masing punya karakter dan maslah sendiri, bahkan ketika sebelumnya adalah indukan yang sudah jadi sekalipun.

       Yang benar adalah sedikit demi sedikit. Walaupun yang sedikit sudah berhasil, tidak boleh langsung emosi membangun langsung dalam jumlah besar. Indukan baru mesti benar-benar dipelajari betul. “Sekarang saya sudah paham pasangan indukan itu bakal jadi atau tidak. Itu perlu waktu. Faktanya, mencari indukan murai batu atau cucakrowo yang bagus, dalam pengertian mau jodoh dan berpotensi produksi juga tidak gampang, “terang Agus Gamping.

       Salah satu cara mudah untuk memahaminya adalah dengan melihat atau mengamati adaptasi si calon indukan dengan lingkungan baru. Demikian pula ketika masuk kandang besar, kalau sudah mau bunyi, ada harapan bahwa burung sudah merasa nyaman, dan peluang untuk jadi besar. Tapi kalau sampai berminggu-minggu  burung belum bisa beradaptasi, apalagi bunyi saja belum mau, menurut pengalaman saya peluang untuk jadi kecil. Kalau begini kejadianya, saya memilih untuk mencari calon indukan lain. Ini berlaku untuk jenis burung apa saja.
Manajemen Resiko
       Hal penting yang harus dihitung dengan seksama adalah menejemen resiko. Mau breeding jangan hanya membayangkan untung saja, tapi juga harus memperhitungkan resiko gagalnya. Ingat, burung adalah makhluk hidup, paling sial ya bisa mati.

       Risiko lain, tidak mau berproduksi dengan begitu banyak kemungkinan penyebab. Dalam kasus berhasil produksi pun, harus dihitung ada saatnya burung juga perlu istirahat produksi, yaitu pada saat mabung. Karena itu, perhitungan umum yang dianggap cukup valid adalah, bahwa produksi cukup lancer bila bisa produksi 25 – 30 % dari semua kemungkinan terbaik.
       Kalau punya satu pasang dengan kemungkinan terbaik bisa produksi 8-9 kali dalam satu tahun, kalu sudah bisa produksi normal 3 kali saja sudah cukup baik. Kalau kita punya 15 pasang burung, kalau dalam satu bulan atau lebih sedikit (misalnya periode 40 hari) 5 pasang di antaranya produksi normal, itu sudah baik.
       Setelah hasil penjualan dipotong dengn pengeluaran, bisa diartikan itu sebagai margin keuntungan alias laba. Untuk manajemen resiko, sebagian laba sebaiknya ditabung untuk berjaga-jaga atau untuk persiapan investasi baru. Misalnya jual anakan cucakrawa 4,5 juta, dikurangi ongkos 1,5 juta, masih ada laba 3 juta rupiah. Sebaiknya ada yang disisakan atau ditabung misalnya 1 juta khusus untuk menjaga resiko breeding. Jadi bila ada indukan mati, kandang rusak dan perlu renovasi, atau menghadapi masa-mas paceklik panjang burung berhenti produksi, kita masih punya dana cadangan entah untuk beli indukan baru, atau untuk biaya perawatan. Prinsip menyisihkan hasil untuk berjaga-jaga antara lain sudah diterapkan dengan baik oleh Agus Gamping dan Heri GAT.

Manajemen Kesehatan
       Breeding yang berhasil bila burung-burung selalu dalam keadaan sehat. Di sini pun sesungguhnya butuh manajemen. Misalnya, ruang karantina untuk burung-burung yang baru masuk. Jadi tidak sembarangan langsung dicampur dalam satu ruangan dengan burung lain yang sudah ada sebelumnya.
       Menjaga kebersihan kandang dan lingkungan, secara periodic memberikan semprotan disinfektan dll. Apa yang harus dilakukan di saat musim hujan, musim panas, juga musim pancaroba. Bila diperlukan, untuk menyusun manajemen kesehatan dengan baik ada perlunya berkonsultasi dengan dokter hewan.

Sumber: Tabloid Burung

Selasa, 12 Juli 2011

Budidaya Ternak Jangkrik



       Dewasa ini binatang yang memiliki suara nyaring ternyata bermanfaat sebagai pakan alternative bagi burung dan unggas, bahkan ikan sekalipun. Ia adalah jangkrik yang memiliki banyak kandungan-kandungan vitamin dibadannya yang baik bila dikonsumsi oleh burung, tentunya dengan aturan-aturan pemberian dalam kesehariannya. Sementara itu factor tersebut dapat menjadi kegiatan ekonomi yang mendatangkan penghasilan yang cukup menguntungkan. Hal ini juga dipengaruhi oleh semarak dan makin gencarnya para pecandu lomba burung di berbagai wilayah.

Cara Pembudidayaan
       Agar persediaan dan kebutuhan akan jangkrik terpenuhi, maka seorang penghobis bisa membudidayakannya sendiri. Dengan cara, pertama membuat kandang pemeliharaan berbentuk kotak persegi panjang dengan ukuran sekitar panjang 240 cm x lebar 60 cm x tinggi 70 cm yang diisi oleh 2 sendok telur siap netas. Kadang pembudidayaan atau pemeliharaan ini menggunakan bahan material yang cukup gampang dicari seperti kayu lapis atau kaca. Bila kandang pembudidayaan tersebut sudah jadi, sebelumnya bagian dalamnya harus dilumuri atau dicat terlebih dahulu dengan menggunakan semen cair hingga kering. Karena kandungan semen tidak memiliki baud an sangat baik bagi perkembangan jangkrik tersebut. Media semen cair digunakan ketika akan memulai pembudidayaan jangkrik secara terus menerus. 

       Setelah itu, siapkan media hidup indukannya yang sudah siap bertelur atau bisa juga membeli telur dan langsung ditetaskan ditempat tersebut. Untuk satu kilo telur jangkrik biasanya  dipatok dengan harga antara Rp. 400.000 – Rp. 600.000. Bahan yang dipakai untuk media hidup jangkrik adalah menggunakan bahan limbah pengepakan telur ayam yang sudah tidak terpakai lagi, dengan cara disusun rapid an diberi jarak antara 1-2 cm, supaya dari rongga tersebut berguna untuk para anakan jangkrik yang menetas, sebagai tempat beristirahat. Tetapi bila dalam pembibitanya dengan telur, diusahakan telur-telur jangkrik tersebut selalu diberi semprotan air, supaya keadaan telur selalu terjaga kelembabanya. Setelah menetas segeralah anakan diberi pemanas listrik yang cukup dikarenakan anakan jangkrik rentan terhadap suhu lembab.

       Biasanya untuk satu kandang persegi telur jangkrik diisi sebanyak 200 gram, dengan waktu kurang lebih 1 – 1,5 bulan dan akan menghasilkan jangkrik dewasa sebanyak 15 – 20 kg, apalagi dengan modal yang minim pun akan menghasilkan keuntungan berlipat. Saat ini harga jangkrik dipasaran per 1 kg antara Rp. 25.000 – Rp. 50.000. Hal ini terbukti dari pengalaman peternak jangkrik, bahwa pembudidaayan jangkrik ini 99% akan berhasil dengan baik.

Pakan dan Hama Pengganggu
       Sementara itu, selama proses pengembangan dan meningkatkan laju pertumbuhan dari anakan hingga menjadi jangkrik dewasa, dalam keseharianya selalu diberikan makanan yang cukup antara lain dedak halus yang dicampur dengan hingga merata. Sedangkan untuk pemberian minumanya menggunakan sayuran yang memiliki kadar air cukup tinggi seperti sawi, pecai, sosin dan bakcoy.
       Selain itu dalam beternak jangkrik juga terdapat beberapa hama yang sering mengganggu antara lain, semut, cecak, kadal, lipan, kelabang dll. Cara mengantisipasinya yaitu dengan cara selalu mengontrol sekeliling kandang. Penjagaan thd kandang, juga bisa memanfaatkan oli bekas atau minyak tanah yang ditempatkan di keempat bagian kaki kandang dengan menggunakan kalen bekas atau mangkuk sebagai wadah penampungnya.

Sumber: Tabloid BnR Community

Memarahi Anak??



       Mengapa anak saya yang waktu kecil penurut, sekarang susah diatur? Mengapa waktu kecil anak yang manis, setelah remaja bicaranya jadi kasar? Sederet pertanyaan semacam itu seringkali muncul di benak orangtua ketika anaknya berubah perangai setelah lepas dari masa anak-anak. Jika anak sudah seperti itu maka orang tua harus mengingat kembali perlakuan seperti apa yang mereka berikan kepada anak-anak.
       “Kalau waktu si anak masih kecil lebih sering kita marahi, kita lukai hatinya, maka hal itu akan terekam dalam memorinya yang paling dalam. Kalau kita dewasa mungkin sudah lupa tapi anak-anak tidak,”kata psikolog RSUD Banyumas, Ratih Winanti.
       Di saat anak beranjak remaja, memori itu muncul ke permukaan dan mewarnai perilaku kesehariannya. Dia akan sering berbicara kasar atau keras manakala waktu kecilnya sering kita marahi. “Karena itu memarahi anak boleh tapi jangan melukai hatinya,”ujarnya.
       Ratih mengatakan hal itu saat menjadi pembicara dalam pertemuan orang tua murid dan guru Taman Bermain/TK Islam terpasdu Bina Putra Mulia di Gedung Haji. Kegiatan ini diikuti para orangtua murid baru sekolah tersebut.
       Dia mengatakan, perubahan perilaku anak biasanya muncul saat dia masuk SMP. Menurut beberapa peneliti, usia SMP adalah usia paling sulit bagi orangtua. Oleh sebab itu Ratih meminta orangtua harus imbang antara memarahi dengan member pujian saat anak masih kecil.
Ditemani Pembantu
       “Coba hitung dalam sehari lebih banyak memarahi atau memuji. Anak bangun tidur, membereskan kamar, shalat Subuh, dianggap biasa. Tidak ada pujian. Tetapi begitu ada kesalahan, langsung dimarahi. Apakah sama bunga yang diberi pupuk dan air yang cukup, dengan bunga yang dibiarkan tumbuh sendiri,”katanya.
       Dalam sesi dialog, banyak peserta yang mengajukan pertanyaan yang sering terjadi dalam rumah tangga dewasa ini. Seperti, karena kesibukan kerja, seorang ibu hanya ketemu anaknya pagi dan sore. Anak lebih sering ditemani pembantu.
       “Dengan kondisi yang demikian, orangtua perlu sesekali mengobrol dengan pembantu. Tujuanya untuk menyamakan pola mendidik anak. Agar pembantu tahu model kita dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan pembantu melakukan hal yang sama kepada anak, “katanya.
       Tetapi perilaku anak itu tidak semata dipengaruhi oleh tabiat orangtua maupun orang lain disekitarnya. Anak juga mempunyai karakter dalam dirinya sendiri. Karakter itu dibentuk saat dia dalam kandungan. Itulah mengapa pentingnya bayi di dalam kandungan sering diperdengarkan Al-Qur’an. “yjarnya.

Sumber: Suara Merdeka Edisi Senin 11 Juli 2011
        

Sukini, Perajin Keripik Tempe ‘Suka Nicky’ Banjarnegara Usaha Dimulai dari Gubuk Sawah 3 x 4 Meter



       Apa yang dialami Sukini (43), barangkali juga dialami orang kebanyakan. Usai mengakhiri masa lajang, tahun 1988, perempuan warga Desa Gumiwang, Kecamatan Purwonegoro ini tidak banyak berkegiatan. Hingga akhirnya tahun  1990 dia dikarunia anak pertama.  "Saya merasa", waktu itu hanya menjadi tukang ngentongin duit (pekerjaanya hanya menghabiskan uang, red). Tidak ada yang lain, "katanya, saat ditemui di rumahnya RT 3 RW X komplek belakang pasar Gumiwang, Banjarnegara.
       Kegelisahan semakin menjadi, terutama karena putra pertamanya Galih Widodo (21) sudah lahir saat itu. Meski sang suami Siswanto(48) sebenarnya tidak pernah menanyakan uang habis untuk apa, Sukini mengaku tetap risih karena menganggur. "Suami saya waktu itu masih kerja serabutan. Paling sering kerja proyek. Awal kami menikah, jujur memang belum memiliki pegangan pekerjaan pasti, "kenang ibu dua anak tersebut.

Secara Tradisional
       Kondisi "terdesak", diakui Sukini menjadi dorongan untuk maju. Memasuki tahun ke delapan pernikahannya, Sukini berinisiatif mencoba membuat seriping pisang. Awal usaha kreatif yang kelak membawanya berjaya dengan bendera "Suka Nicky" untuk keripik tempe. "Karena tidak memiliki ruang cukup, awalnya kami memindah gubuk 3x4 meter dari sawah. Pisang dikupas di luar, penggorengan di dalam gubuk,"kata Siswanto, suaminya. selain keripik pisang, Sukini juga membuat sale dan menggoreng kacang kulit. Secara umum, usaha keripik pisang yang dilakukan bungsu dari delapan bersaudara itu berhasil. Meskipun pemasarannya masih dilakukan secara tradisional. "Sya ingat betul, menjadi marketing. Kirim barang, jalan kaki dengan cara dipikul ke pasar. Sedikit demi sedikit, sampai memiliki motor untuk pengiriman,"kata Siswanto yang pernah merantau hingga Jakarta dan Jawa Timur tersebut. Satu-satunya kendala, adalah bahan baku pisang yang kadang tersendat. Untuk mencarinya juga susah. Diakui Sukini, kendala tersebut sering merepotkan. Wajar, jika di tengah jalan Sukini sempat mandeg.
       "Akhirnya saya memutuskan untuk ganti produksi keripik tempe. Padahal, kami ini tidak ada keturunan perajin tempe. Semua dilakukan otodidak," katanya. Sukini mengaku meminta bantuan tetangga untuk mengajari membuat tempe. Awal usaha, entah berapa kuintal tempe harus terbuang sia-sia karena salah proses pembuatan. Tetapi, semua dilakukan dengan semangat. "Pernah membuat tempe 50 kilogram kedelai, tidak jadi. Ya sudah, akhirnya dibuat pakan ikan. Kebetulan saya punya kolam"kata Siswanto.

Sumber: Suara Merdeka Edisi Senin, 1 Juli 2011